Friday, March 12, 2010

KISAH CINTAKU

Part I

Pesta yang diselenggarakan oleh keluarga Marden sangat meriah sekali, aku datang bersama Derek, kekasihku, Tania sepupuku dan suaminya, John, yang merupakan teman baik Derek juga. Johnlah yang mengenalkan Derek kepadaku sekitar 7 bulan yang lalu dan sejak itu kami mulai dekat sehingga baru 3 bulan terakhir ini aku resmi menjadi kekasih Derek.

Kebahagiaanku sebagai seorang wanita sangatlah terasa sempurna, bayangkan di saat usiaku menjelang 37 tahun, Tuhan memberikan aku seorang kekasih yang tampan, baik dan mapan (seorang pengusaha muda yang sukses) serta berusia 3 tahun lebih muda dari aku (hmmm daun muda ni). Tak pernah kusangka dengan kepergianku ke Amerika untuk liburan setelah aku berhenti bekerja di perusahaanku yang lama membuat aku mendapatkan seorang kekasih seperti Derek. Tadinya tidak ada keinginan di hatiku untuk menerima Derek sebagai kekasih, selain usianya yang muda aku juga merasa minder berdampingan dengannya. Sampai detik ini aku selalu masih merasa takjub kenapa dia bisa memilih aku untuk menjadi kekasihnya. Aku tidak memiliki wajah dan tubuh seperti seorang supermodel, bahkan boleh dikatakan tubuhku mencerminkan obesitasku, dan wajahkupun biasa-biasa saja tidak ada istimewanya.

Selama 2 bulan dia berusaha meyakinkan aku bahwa aku orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Dan aku karena desakan dari sepupuku juga karena aku pikir gak ada salahnya punya pacar yang bisa menemani aku jalan-jalan di New York City ini setelah saatnya aku pulang yah hubungan bisa berakhir. Toh jarang orang-orang bule bisa mempertahankan sebuah hubungan yang bersikap langgeng, dan aku pikir sah-sah saja menikmati sebuah tawaran cinta yang diberikan kepadaku, kan aku tidak minta tapi diberikan jadi yah enjoy saja.

Sejalan dengan waktu, selama 3 bulan ini aku menikmati hubunganku dengan Derek, perasaan tidak yakinku lama kelamaan terkikis perlahan-lahan mulai bisa menerima bahwa Derek memang sungguh-sungguh kepadaku. Dan aku mulai membuka hatiku walau tetap aku memasang tanda hati-hati di pintu jiwaku. Semua kebahagiaan mengalir deras di setiap pembuluh nadiku seakan melancarkan semua peredaraan darahku di seluruh tubuh. Yang lebih ajaibnya adalah tanpa aku sadari tubuhku mengecil dengan sendirinya, dalam waktu 6 bulan berat badanku turun drastis hampir 26 kg, beratku menjadi 69 kg. Semua pakaian lamaku longgar dan membuat aku terpaksa membeli baju-baju baru yang mana sebagaian besar dari baju-baju dibelikan oleh Derek tanpa aku minta bahkan seringkali aku menolaknya.

Hari ini, kami semua diundang ke pesta ulang tahun Brian Marden yang merupakan teman baik John. Brian, Derek, Nick, dan Roger merupakan teman satu gank sangat dekat sekali sejak high school bahkan persahabatan ini sudah berlangsung hampir 15 tahun lamanya, walaupun 2 diantara mereka sudah menikah dan isteri bahkan pacar mereka saling akrab satu sama lain juga. Nick merupakan pemimpin tidak langsung mereka, semuanya selalu menoleh kepada Nick jika ada masalah yang membutuhkan keputusan dan pria ini selalu dapat mempengaruhi mereka semua untuk mengikuti apa yang dikatakannya.

Kelima pria ini merupakan pria yang sangat sukses dan tampan, merupakan pria-pria pilihan, mereka mempunyai perusahaan2 sendiri yang bergerak di bidang yang saling menunjang satu dengan yang lainnya. Tania sendiri tidak pernah menyangka John akan memilih dia dibandingkan ex pacar-pacarnya yang kebanyakan wanita-wanita cantik yang terkenal walau Tania sendiri juga merupakan seorang wanita cantik yang eksotis dengan warna kulit sawo matang khas milik orang Indonesia. Berbeda dengan aku yang memiliki darah campuran Tionghoa, Minang, Belanda, sehingga menghasilkan kulit dan wajah yang biasa-biasa saja menurut aku.

Setelah memakirkan mobil, Tania, John, Derek dan aku berjalan menapaki halaman rumah menuju teras depan di mana sudah menunggu pula Roger dengan kekasih barunya yang sexi, Marsha dan Nick yang terlihat datang bersama Linda, yang juga merupakan sahabat kelima cowok ini. Dengan menggandeng tangan Derek, aku berjalan dengan hati-hati menggunakan tumit tinggi di jalan bebatuan ini, aku takut jatuh sehingga terasa memalukan sekali kalau terjadi di pesta yang didatangi banyak oleh orang terkenal.

Setelah saling memberikan salam, kami bersama-sama masuk ke dalam untuk menemui yang punya hajatan. Di dalam ruang tamu, ruang tengah, ruang makan sampai ruang belakang semua dihiasi dengan indah dan meriah sekali, banyak sekali tamu yang hadir bahkan aku melihat ada Tyra Banks di pojok sana dikelilingi para pria dan wanita secantik dirinya. Aku mengagumi wanita cantik ini dan sangat menyukai charisma yang terpancar kuat dari dalam dirinya.

Dalam hati ada perasaan minder melihat orang-orang yang ada di sekeliling kami, berpakaian sangat indah dan elegan sekali. Untunglah aku menurut “paksaan” Tania untuk menerima baju yang dikirimkan Derek supaya aku bisa menggunakannya di pesta ini. Baju ini sangat sederhana sekali berwarna hitam lembut dengan bahan jatuh ke tubuhku dengan indahnya, potongan leher baju tersebut memperlihatkan kulit tulang belikat dan leherku dengan baik sekali.

Kami menemui Brian yang terlihat sangat tampan sekali didampingi isterinya yang sangat molek bernama Nancy, seorang wanita yang ramah dan sangat baik sekali, tidak sombong walaupun dia merupakan anak kesayangan dari seorang banker terkenal. Aku sangat menyukai wanita cantik ini, dan dia juga menyukaiku, kami sering saling “curhat” walau lebih banyak dia yang bicara dan aku mendengarkan. Seperti biasa begitu melihatku langsung Nancy menarik tanganku untuk berdiri di sampingnya, melihat hal ini aku langsung berbisik di telinganya untuk ingat tugasnya sebagai sang nyonya rumah. Dan Nancy balas berbisik kepadaku menceritakan kelucuan yang terjadi yang merupakan rahasia kami berdua, yang akhirnya memancing tawa geli kami berdua.

Mereka yang lain melihat kami dengan bengong, dan seperti biasanya Brian menggeleng kepalanya melihat keadaan kami berdua.

“Sudahlah kalian jangan bengong saja melihat mereka berdua, lebih baik kalian langsung masuk ke dalam dan ambil minuman. Derek, biarkan saja Dewi di sini bersama isteriku, mereka berdua kalau sudah seperti ini tidak bisa dipisahkan lagi.”

Derekpun dengan senyum pasrah melepaskan tanganku dan berjalan bersama yang lain ke ruangan tengah, sedangkan aku menemani Nancy dan Brian di ruang tamu. Tepat jam 8.00 malam, kami berjalan ke ruang tengah di mana sudah ada panggung kecil berdiri di samping tangga menuju ke lantai dua. Aku mengedarkan mataku untuk mencari Derek di tengah keramaian, dan aku melihatnya sedang berbicara serius dengan Linda berdua saja. Sedangkan yang lain tidak terlihat di sekitar mereka, aku tidak menaruh prasangka buruk apapun walau ada perasaan aneh juga melihat keadaan mereka berdua. Mereka terlihat sangat asyik bicara, aku melihat Linda bicara dengan kesal dan mata yang terlihat sedih menatap Derek, sedangkan Derek bersikap diam tapi matanya menatap Linda dengan sendu.

Entah kenapa hatiku merasa tidak enak melihat mereka berdua, tapi karena aku memang orangnya tidak gampang cemburu jadi hal ini aku buang jauh-jauh dari pikiranku. Supaya aku tidak gelisah aku memandang sekelilingku mencari Tania dan John, tiba-tiba mataku membentur mata Nick yang sedang menatap aku seperti sedang menganalisa diriku. Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan hal itu, apakah ada hubungannya dengan Derek dan Linda? Kembali aku ingin membuang perasaan tidak enak tadi dan kembali mengedarkan pandangan mataku mencari sepupuku. Kemudian aku melihat mereka sedang terlibat pembicaraan dengan Roger dan pacarnya serta ada beberapa teman mereka yang lain.

Aku ingin menghampiri Derek, tapi aku juga tidak mau mengganggu pembicaraannya dengan Linda, akhirnya aku memalingkan wajahku kembali melihat pada Nancy ternyata Nancypun sedang menatapku dengan cara aneh seperti yang dilakukan oleh Nick. Mulai perasaanku tidak dapat dibohongi lagi, firasatku mengatakan ada sesuatu yang aku tidak tahu tapi ada sangkutannya dengan diriku. Tapi seperti biasa di setiap ketakutan dan kekhawatiranku, selalu aku menampilkan wajah yang “cool” seperti tidak ada kejadian apapun. Aku memasang senyum yang manis menurutku memandangi Nancy dan Brian serta orang-orang yang mendekati kami. Tidak lama kemudian kurasakan tanganku seperti ada yang memegang saat aku menoleh ke belakang aku melihat Derek sedang tersenyum menatapku dan tangannya memegang tanganku dengan erat. Dengan tidak sadar mataku menatap dalam-dalam ke matanya yang berwarna hijau itu, memang di sana kulihat sebuah kesedihan dan ketidakberdayaan yang kental sekali.

Hatiku tercekat dan mulai merasakan gejala yang sangat aku takutkan kesakitan akibat patah hati, cepat-cepat aku berusaha membentengi diri dan memupuk semua kekuatanku untuk bertahan. Untuk menyembunyikan hal ini aku kembali memasang topengku yang “cool” dan “lugu” seperti tidak ada kejadian apapun juga. Aku berusaha tersenyum dengan sebaik mungkin untuk tidak membuat semua orang mencurigai apa yang ada di benakku.

“Hi stranger.” Kataku dengan santainya.

Terlihat Derek berusaha tersenyum dan santai menanggapi godaanku, “Sudah puas bergosipnya?’

“Hmmm… “

“Brian, kapan mulai acaranya nih? Aku sudah lapar?” kata Derek berusaha membuat suasana terlihat ringan.

“Sekarang ini, Nancy, mari kita mulai acara kita,” kata Brian sambil menggandeng isterinya yang sedang menatap Derek dengan galak.

Brian dan Nancy berjalan menuju panggung yang tersedia, dan acara ulang tahun dimulai secara resmi. Setelah itu kami semua ditarik oleh pasangan Marden menuju ruang makan untuk menikmati semua hidangan yang disediakan. Makanan enak melimpah ruah di ruangan tersebut, bahkan aku mendengar diantara bisikan tamu bahwa makanan yang disajikan dibuat oleh seorang koki terkenal yang sering muncul di acara TV.

Tapi semua makanan enak itu tidak mampu aku telan seperti tenggorokan tersumbat sesuatu sehingga sangat susah menelannya. Aku berusaha untuk tetap menjalaninya dengan tenang dan santai, menyembunyikan ketakutan hatiku berikut kepedihan yang mulai mengiris diriku pelan-pelan. Hal yang sama aku lihat terjadi juga pada Derek, diapun tidak menikmati makanan yang enak ini seperti biasa, aku tahu dia sangat suka makan walau kadang aku suka heran ke mana perginya lemak makanan tersebut dari tubuhnya yang terlihat atletis itu.

Roger, Marsha, Nancy, Brian, Tania dan John tidak hentinya berbicara dan saling memuji sedangkan Derek,Nick, Linda dan aku hanya diam menikmati percakapan yang terjadi.

“Nick, tumben loe diam aja? Kenapa sakit gigi yah? Ditemani oleh seorang wanita cantik seperti Linda seharusnya loe senang donk,” kata Roger.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka semua berusaha menjodohkan Nick dengan Linda, dan aku perhatikan Linda sebenarnya juga menyukai Nick, hanya pria tampan ini tidak pernah menunjukan reaksi lebih dari seorang teman.

Dengan senyum miring dia membalas perkataan Roger,”Memang gue senang malam ini karena mata loe gak bisa jalan-jalan lagi karena di samping loe udah berdiri wanita idaman para pria di ruangan ini.”

Marsha yang dipuji oleh Nick merasa senang sekali karena jarang sekali Nick mengeluarkan pujian kepada siapapun jika tidak benar-benar sesuai dengan kenyataan. Dan Roger membalas perkataan tersebut dengan mendelikan matanya menatap tajam kepada Nick. Nancy masih menatap Derek dengan wajah sebel dan Brian berusaha menyenggol tangannya supaya tatapannya tidak seperti itu. Kejadian kecil itu tidak luput dari mata hatiku yang tiba-tiba menajam sejalan dengan perasaanku yang semakin terasa berat.

Selesai makan malam, semua tamu dipersilahkan menikmati dessert yang telah disediakan dan berhubung Brian merupakan orang Inggris tulen yang masih memegang tradisinya walaupun sudah hampir separuh usianya dihabiskan di negeri paman Sam ini tetap saja dia ingin memisahkan para wanita dan pria dalam menghabiskan “dessert” mereka. Para pria digiring ke ruang belakang mengarah ke taman yang luas di belakang menghadap ke laut supaya mereka bisa merokok atau sekedar minum kopi atau anggur. Sedangkan para wanita diajak Nancy ke ruang tengah untuk menikmati kue-kue kecil dan pudding yang merupakan kesukaan para wanita untuk menyelesaikan makan malam yang nikmat ini.

Aku mengikuti Nancy dan yang lain berjalan ke ruang tengah, dan bergabung dengan teman-teman yang lain. Sesaat lamanya aku berusaha larut ke dalam keadaan ini tapi seperti biasanya aku cepat bosan mendengarkan celoteh yang tidak ada isinya selain gossip sesama mereka. Pelan-pelan aku beranjak pergi sambil mencari kamar kecil yang aku tahu ada di ruang belakang dekat dapur kotor. Setiap ke rumah mereka, aku sangat menyukai berdiri di gazebo belakang sambil menatap laut untuk mengobati kerinduanku akan Indonesia.

Sekarangpun aku berjalan menuju tempat favoritku itu untuk berpikir tenang menelaah situasi yang aku hadapi kini. Saat aku sampai di sana aku melihat gazebo itu sudah ditempati para pria yang aku tidak jelas lihat dari jarak aku berdiri, perlahan aku berputar arah menuju ke kanan ke arah pagar besi yang dibangun untuk mengelilingi taman belakang rumah ini yang dibangun di atas tebing karang tepi laut. Tebing ini tidak terlalu tinggi kira-kira 2 meter di atas permukaan pantai tapi karena letaknya yang didesain sedemikian rupa sehingga terkesan sangat menawan sekali disinari sinar bulan dan lampu-lampu yang menghiasi taman.

Aku suka menatap laut setiap kali hatiku bergejolak seakan laut itu bisa menenangkan hatiku dengan mendengar deburan ombak dan sinar bulan yang menerangi riak gelombang di laut itu. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdiri dan bersandar di balik pohon cemara yang tumbuh dekat pagar besi tersebut.

Tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang aku kenali sedang berjalan menuju arahku dari samping kananku, aku mendengar Brian sedang berkata sesuatu dan aku mendengar jawaban dari Roger.

“Memang gue juga heran kenapa Derek yang biasanya begitu pemilih dalam hal perempuan bisa kena dengan Dewi? Jika dibandingkan dengan Linda jauh sekali, dia orangnya cantik, kaya dan pintar lagi.”

“Benar, kalo dilihat apa sih kelebihan si Dewi itu, wajah biasa saja, tubuh gede begitu, tampang dingin, tatapan mata begitu tajam seperti ingin menelanjangi orang, diam seperti tanpa perasaan. Tidak punya banyak uang, dari Negara dunia ketiga yang jelas-jelas termasuk kategori miskin, serta kurang pintar. Apa yang loe liat dalam diri perempuan itu, mana dia lebih tua dari loe lagi,” terdengar kata-kata Nick tajam.

“Tapi dia baik kok, dan pengertian sekali,” sahut John membela aku.

“Iya, dia bisa menasehati Nancy ketika dia marah-marah yang gak jelas padaku, sehingga akhirnya Nancy minta maaf ama aku karena sudah marah-marah,” Brian juga menambah pembelaan kepadaku.

“Itulah dia masalahnya, Dewi itu terlalu baik dan pengertian sekali, tidak pernah sekalipun dia meminta sesuatu kepadaku ataupun menyebabkan aku kesal. Dia sepertinya tahu bagaimana harus bersikap melihat keadaanku, tidak pernah cemburu, tidak pernah membuat aku jengkel atau bisa marah kepadanya. Sikap dia ini membebani aku. Linda mendesak aku untuk memutuskan hubungan kami agar dia bisa kembali kepadaku dan menyambung hubungan kami yang sempat terputus itu. Dan aku tadinya juga menjalin hubungan dengan Dewi hanya sebagai pelarian saja untuk membuat Linda kesal dan cemburu, karena aku tahu orang seperti Linda tidak bisa menerima kekalahan dari orang seperti Dewi,” kata Derek dengan menghela nafas.

“Jadi maksud loe sebenarnya ingin memutuskan hubungan dengan Dewi selama ini? Maksud loe menjalin hubungan dengan dia hanya untuk membuat Linda cemburu ! Brengsek loe, menyesal gue udah kenalin loe dengan dia, kalo sampai Tania tau masalah ini bisa runyam urusannya,” kata John dengan nada tinggi.

“Loe emang gila yah, gue juga bisa dalam kesulitan kalo sampai Nancy mendengar masalah ini. Loe mana boleh mempermainkan perasaan orang seperti itu. Loe tahu Nancy bilang Dewi itu orangnya susah membuka hatinya kepada pria manapun, walau dia bisa dengan sangat mudah jatuh cinta kepad pria tapi untuk membuat dia menerima loe sebagai tempat curahan perasaannya tidak gampang. Dia sudah mulai membuka hatinya buat loe dan sekarang loe bilang loe mau putusin dia?”

“Sudahlah kalian jangan memojokan Derek seperti itu, gak kalian liat wajahnya yang sudah kusut itu memikirkan masalah ini. Saran gue sih boys, berani berbuat berani tanggung jawab, lebih baik loe putusin Dewi sekarang jika memang loe gak punya perasaan ama dia daripada loe. Karena cepat atau lambat dengan perasaan lu seperti ini pasti hubungan kalian tetap saja akan berakhir mumpung belum terlalu lama.”

“Gue setuju apa yang dikatakan Nick, lebih cepat lebih baik loe putusin Dewi, palingan loe dak enak hatinya hanya sebulan daripada loe gak enak terus selamanya. Lagian Linda, gue liat udah nafsu banget ama loe, yah mendingan ama dia lagi, kalo bisnis loe kacau loe bisa di back up dia. Kan kebetulan juga bisnis loe lagi dalam kondisi kurang baik jadi loe ama Linda aja, bokap dia bisa bantu usaha loe untuk menjadi lebih besar. Gak kayak si sombong Nick ini, udah banyak gadis kaya mau ama dia eh malah ditolak mentah-mentah. Sepertinya yakin dengan kekuatan sendiri untuk membangun usahanya dan tidak butuh bantuan orang lain.”

“Emangnya semua orang kayak loe, Rog, semua usaha loe dibantuin ama bokap pacar-pacar lu?”

“Hehehe… gue memang hoki berat, bokap mantan pacar gue masih tetap saja memberikan gue bisnis walau gue udah tidak ama anak mereka lagi karena selama in yang memutuskan hubungan kan anak mereka bukan gue. Jadi yah untuk menutupi “keputusan bodoh” anaknya yah mereka tetap bantu gue.”

“Dasar tidak tahu malu.”

“Derek, gue benar-benar tidak menyangka loe orang yang seperti ini, gue benar-benar menyesal mendorong Dewi menerima loe di hidupnya. Lebih baik mulai sekarang loe jauhin rumah gue, gue dak mau ini semua membuat gue ribut dengan Tania dan menghancurkan persahabatan kita.”

“John, gue minta maaf banget bukan maksud gue begitu, gue pasti akan cari waktu yang baik untuk bicara dengan Dewi agar masalah ini bisa terselesaikan dengan baik. Gue harap hubungan persahabatan kita tidak berakhir karena masalah ini, sebenarnya kalo boleh memilih gue ingin memiliki kedua-duanya tapi gue tahu gue tidak boleh serakah makanya gue harus memilih salah satu diantara mereka. Gue memilih Linda bukan hanya karena dia kaya, cantik dan pintar, tapi karena memang gue dari dulu cinta sama dia, tapi sayang dia tidak pernah menanggapi perasaan gue baru terakhir ini saja dia akhirnya menyadari cinta gue padanya. Sedangkan pada Dewi awalnya gue merasa kasihan cewek yang datang dari jauh tapi tidak bisa menikmati liburannya di sini, lama-lama gue berhubungan dengan dia, gue merasa tambah kasihan dan entah kenapa gue selalu ingin memberikan dia sesuatu dan melindunginya. Gue pikir daripada gue bersusah payah mencintai orang yang tidak mencintai gue kenapa gue tidak belajar menerima Dewi di sisi gue, karena gue sudah capek untuk menjalin hubungan dengan perempuan yang menginginkan sesuatu dari gue tapi bukan diri gue yang sebenarnya. Tapi ketika Linda mendekati dan mulai menerima cinta gue, gue merasa menyesal sekali menerima Dewi seandainya guebersabar sedikit lagi pasti tidak akan terjadi seperti ini atau seandainya dari awal gue tegas mengatakan kepada Dewi bahwa hubungan kami benar-benar hanya persahabatan…” terdengar desahan panjang Dererk.

Mereka sudah melewati tempat aku berdiri kaku dan sambil mengepalkan tanganku kuat-kuat untuk menahan tubuhku jangan sampai ambruk di tempat.

Aku sudah tidak mampu lagi mendengarkan apapun lagi dari perkataan mereka selain mereka sudah tambah jauh juga suara mereka mulai turun nadanya. Aku sedang berusaha mengendalikan getaran tubuhku yang terguncang dengan keras seiring dengan detak jantungku yang berpacu cepat dan tarikan nafasku yang terasa sesak sekali. Sekuat daya yang ada aku berusaha meraih kekuatan dalam diriku agar bisa menghadapi kesakitan ini. Otakku terasa kebas dan hatiku retak seakan sebentar lagi akan hancur berkeping-keping jika aku tidak menahan getaran tubuhku.

Aku mendengar Brian memanggil para tamu ke dalam rumah untuk melanjutkan acara dengan berdansa bersama pasangan masing-masing, musik dansa sudah mulai terdengar mengalun dengan indahnya, tapi aku sudah tidak mampu merasakan apapun juga selain berusaha menenangkan diriku agar aku bisa masuk ke dalam tanpa seorangpun tahu apa yang berkecamuk di dalam diriku.

Dengan tegar dan berusaha sekuatnya aku menggerakan kakiku untuk melangkah satu demi satu menuju ke rumah, setiap langkah yang aku ambil begitu beratnya sehingga aku merasa dadaku sesak dan nafasku menjadi tersendat-sendat. Aku hanya sanggup melangkahkan kakiku sampai di gazebo dan aku tidak menyadari ternyata saat aku berjuang mengendalikan diriku cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba gelap dan mendadak turun hujan dengan derasnya. Udara yang tadinya terasa biasa saja mendadak terasa bertambah dingin dengan cepatnya kembali tubuhku bergetar dengan hebatnya. Dengan diiringi kilat dan petir yang bertalu-talu di telingaku, kembali semua perkataan Derek mengiang-ngiang di telingaku.

Setiap suara dahsyat yang dimuntahkan oleh sang petir, setiap itu pula aku merasa tubuhku siap untuk hancur berderai, dengan menggeretakkan gigi dan memejamkan mata kuat-kuat, aku memeluk tubuhku sendiri erat-erat takut aku akan hancur berkeping-keping sehingga bisa menjadi gila karena menahan kesakitan hatiku….

No comments:

Post a Comment