Friday, March 12, 2010

Part II

“Sialan, ke mana zippo itu jatuhnya,” gerutu Nick sambil meraba-raba saku baju dan celananya.

“Guys, gue mau ke belakang bentar cari zippo gue , mungkin jatuh pas kita jalan-jalan tadi,” kata Nick sambil berjalan kembali ke belakang.

“Buruan Nick, bentar lagi kayaknya mau hujan, gue udah liat sambaran kilat tadi,”kata Roger.

“Yah, gue tahu.”

"Gile juga nih si Nick, zippo jelek gitu aja sampai dicari-cari, kalau gue udah gue buang dari kapan tau.”

“Loe sih gak tau sejarahnya Rog, itu zippo kan pemberian Anne waktu Nick ulang tahun ke 25.”

“Maksud loe, dari Anne ex pacar dia yang brengsek itu?”

“Yup, jadi Rog, jangan sebut-sebut masalah zippo itu sebagai barang sampah, bisa ngamuk nanti tuh manusia edan,” kata Brian sambil tersenyum miring.

Roger hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu, dalam hati dia berkata, untuk apa juga Nick memikirkan cewek gak tau diri itu, saat Nick jatuh dari bisnisnya dia tinggalin begitu saja, sekarang saat Nick sedang di puncak kejayaan kembali mau masuk dalam hidup temannya itu. Dan ini membuat mereka semua menghalang-halangi keinginan Anne tersebut, sayangnya Roger tidak tahu zippo tersebut pemberian dari Anne, kalau dia tahu sudah dibuang ke laut tadi pas saat dia pinjam dari Nick. Roger sangat tidak menyukai Anne yang menurutnya seorang cewek sok suci tapi berhati culas.

Mereka berjalan kembali ke ruang depan untuk mencari pasangan mereka masing-masing. Derek terlihat ogah-ogahan untuk mencari Dewi, memang matanya jelalatan melihat-lihat tapi dia sedang mencari Linda, karena dia ingin bicara dengan perempuan itu. Menjelaskan bahwa dia membutuhkan waktu lagi untuk memutuskan hubungan dengan Dewi, dia merasa benar-benar berat sekali melakukan “pekerjaan” yang tidak berperasaan seperti ini. Lain dengan bisnis, dia terkenal sangat kejam sekali jika berurusan dengan bisnis menyaingi “kegilaan” Nick dalam mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu hebat dalam bisnis. Dalam kehidupan social, dia terkenal sangat dermawan dibandingkan teman-temannya yang lain bahkan dia memperkarsai pembentukan yayasan Cinta Sesama dengan keempat temannya untuk mendanai anak-anak telantar dan menderita penyakit yang berat.

Oleh karena itu dia sering kali diolok-olok teman-temannya akan 2 kepribadian yang berbeda ini. Tapi dia selalu menanggapi dengan santai saja karena dia merasa teman-temannya juga seperti dia terutama Nick yang paling terkenal ketajamannya di dunia bisnis, tidak ada satu juga yang bisa lolos dari cengkreman tangannya jika dia sudah memutuskan untuk mengambil alih perusahaan orang lain.

Sambil ngobrol ringan mereka mendekati pasangan mereka yang kebetulan memang sedang berdiri bersama, terlihat Nancy memandang tidak suka kepada Linda, sedangkan Linda kelihatan cuek saja ditatap seperti itu. Tapi mereka tidak melihat adanya Dewi diantara wanita-wanita itu, Derek mengedarkan kembali matanya ke sekeliling ruangan untuk memastikan keberadaan Dewi, tetap wanita itu tidak terlihat. Derek bersikap diam saja karena dia berpikir mungkin Dewi sedang ke kamar kecil jadi tunggu beberapa saat sebelum mencarinya. Melihat pasangan mereka kembali, Nancy dengan cepat menarik tangan Brian dan berbisik di telinga pria itu, mendengar bisikan isterinya, Brian membesarkan mata dan menatap isterinya tidak percaya. Sedangkan Marsha bergerak mendekati Roger sambil tersenyum sensual, dia ingin sekali segera pulang dan menikmati sisa malam ini di mansion Roger yang indah itu. Sedangkan Tania terlihat seperti menahan kemarahan menatap Derek dan John bergantian. Kedua pria yang ditatap begitu kebingungan ada apa gerangan sehingga Tania yang biasanya jarang sekali menunjukan emosinya itu bisa sampai seperti ini.

Nick berjalan keluar dengan cepat sekali karena dia tidak mau mencari zipponya di bawah hujan, tidak lucu rasanya diguyur hujan karena dia tidak mau kehilangan zippo keparat itu. Dia masih menyimpan zippo itu sebagai tanda pembuktian kebodohannya menghadapi perempuan yang dia sangka polos dan lugu. Dengan zippo yang masih ada dalam genggamannya merupakan peringatan bagi dirinya untuk bertindak hati-hati dalam hal perempuan dan tidak memberikan penilaian berdasarkan hati lagi tapi harus menggunakan otak sehingga dia tidak akan terkecoh lagi dengan tipu muslihat para perempuan yang merupakan jelmaan para iblis itu.

Cepat Nick berjalan kembali menyusuri jalan yang telah dia lalui bersama temannya sambil matanya menatap sekeliling dengan bantuan senter kecil yang kuat sekali sinarnya yang selalu dia bawa di sakunya. Dengan menunduk dia terus berjalan mendekati gazebo sambil menggunakan kakinya menyibak rumput di sekitanya.

Dia mendengar rintihan pilu itu, mula-mula dia berpikir itu adalah suara angin yang bertiup, tapi kembali dia mendengar seperti desahan kesakitan di dekat dia. Segera dia mengangkat kepala dan melihat sekelilingnya mencari asal suara itu. Mula-mula dia tidak melihat ada orang di sekitar gazebo itu, tapi dia yakin suara itu berasal dari gazebo jadi dia berjalan mendekatinya.

Dan di sanalah dia melihat ada sesosok tubuh wanita, dia mendekati wanita tersebut karena dia kuatir wanita itu sedang kesakitan. Perlahan dia berjalan memutari gazebo sehingga dia bisa melihat siapa wanita itu. Kemudian pemandangan yang dia lihat saat itu tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

Dia melihat Dewi sedang memejamkan matanya erat-erat, wajahnya seperti menahan kesakitan yang teramat sangat, dan kedua tangannya sedang memeluk tubuhnya dengan kuat sekali seakan sedang berusaha menahan getaran yang terlihat mengguncang tubuh itu. Dan dari mulutnya terdengar suara rintihan pilu yang menyayat kalbu, ingin dia bergerak mendekati Dewi untuk menanyakan kenapa dia, tapi entah kenapa dia tidak mampu bergerak seakan kakinya terpaku di tempat dia berpijak saat ini. Guratan kesakitan, kepedihan dan kepiluan membayang di wajah bulat telur wanita itu, tubuhnya terlihat gemetar kencang seperti ada sesuatu dari dalam tubuhnya yang menghentak-hentak. Wanita yang biasanya terlihat selalu tegar dan mandiri itu sekarang terlihat seperti seorang anak perempuan yang rapuh hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur berkeping-keping.

Kedua tangan yang tadinya memeluk tubuhnya sekarang terurai, yang satu mengcengkram baju di dadanya sedangkan yang satu lagi berusaha meraih pegangan di dinding gazebo. Nick tidak merasakan hujan yang sudah turun membasahi kepala dan tubuhnya, dia tidak sadar akan keadaan sekelilingnya dia seperti tersihir melihat begitu besar kepedihan dan kesakitan yang terlukis di wajah Dewi. Dia tidak melihat adanya air mata yang berjatuhan di pipi mulus perempuan itu tapi entah kenapa dia dapat merasakan bahwa Dewi sedang menangis perih di hatinya, mungkin air mata yang keluar merupakan air mata darah yang menyirami hatinya yang sedang terluka. Nick ingin sekali membantu Dewi melalui kesakitan ini, tapi kembali dia tidak mampu bergerak hanya menatap tidak berdaya ke arah Dewi.

Keadaan ini berlangsung sekitar beberapa menit, kemudian perlahan Dewi membuka matanya menatap sendu ke arah langit dan laut seakan ingin mengadukan kepedihan hatinya. Nick melihat di mata perempuan itu luka yang terkoyak-koyak dan kehampaan yang dalam sekali. Dia jadi bertanya dalam hati apakah begitu perasaannya ketika Anne membuang dia demi kekayaan dan sebuah kerajaan bisnis? Tidak, saat itu dia tidak sampai seperti Dewi, walau dia merasakan perasaan kesakitan karena dikhianati tapi lebih banyak kemarahan karena kebodohannya mempercayai wanita brengsek itu. Sakitnya yang dia rasakan sepertinya tidak sedahsyat yang dirasakan oleh Dewi, karena dia melihat tubuh perempuan itu tidak berhenti bergetar sedangkan kedua tangannya terkepal dengan kuatnya seakan berusaha membuat getaran tubuhnya berhenti.

Terdengar rintihan dan isakan lirih mengiris sukma dari mulut Dewi yang terasa menikam jantung Nick dengan kuatnya sehingga diapun merasa detak jantungnya berdegub kencang menahan tikaman perasaannya. Hujan turun semakin deras, rambut Nick yang tebal dan agak gondrong kini melekat di kepalanya menutupi wajahnya sehingga terlihat hanya matanya saja. Dewi merasakan kehadiran seseorang di dekatnya dan memalingkan mukanya ke kanan untuk melihat siapa gerangan yang mendekatinya. Sempat nafasnya seolah berhenti menatap sepasang mata berwarna biru tajam dan bibir tipis yang tertutup rapat. Tapi segera dia tahu siapa orang itu, diantara semua orang yang dia tidak harapkan ada di sini sekarang, Nick menempati urutan pertama.

Dewi tidak mampu lagi menyembunyikan kepedihan dan luka hatinya kepada Nick, karena di mata Nick dia menemukan perlindungan dan “care” terhadapnya. Sorot mata Dewi yang sendu dan wajah yang rapuh itu seolah menggerakan kaki Nick untuk meraih perempuan itu dalam perlindungannya, tanpa ragu seakan ada gaya tarik yang kuat mengarahkan langkahnya ke Dewi. Kedua tangannya terulur menggapai tubuh Dewi yang sepertinya lemas tidak bertenaga untuk mengelak dari Nick.

Begitu tubuh itu masuk dalam pelukannya, Nick merasakan getaran yang hebat sekali dan “kerapuhan” akan perempuan ini. Dulu dia selalu mengira memeluk perempuan sebesar Dewi pasti tidak enak karena membutuhkan kedua tangan baru bisa memeluk penuh tubuh besar ini. Dia selalu suka memeluk perempuan dengan menggunakan satu tangan saja, sehingga tangan yang lain bisa bebas digunakan untuk apapun. Tapi kini dia merasa bersyukur kedua tangannya dapat memeluk Dewi, seakan dia merasa dirinya utuh dengan mendekap wanita itu erat-erat ke tubuhnya. Perempuan itu bersandar lemas ke tubuhnya ibarat tidak ada tenaga lagi dari tubuh itu, tapi yang anehnya dia tidak merasakan berat tubuh wanita itu. Malahan dia merasakan dirinya ingin sekali menjadi sandaran bagi Dewi yang mampu menampung semua kesakitannya dan menghapus semua duka deritanya. Belum pernah dia merasakan perasaan ingin melindungi dan menyayangi seorang perempuan seperti yang saat ini dia rasakan untuk Dewi.

“Dewi, menangislah jika kamu ingin menangis, aku akan selalu ada di sisimu untuk mendampingimu melewati semua ini,” lembut suara Nick mengalun di dalam telinga Dewi dan tangan kanannya bergerak perlahan mengusap kepala Dewi dan menekannya ke dadanya.

Mendengar suara Nick yang penuh kelembutan dan sayang itu, tiba-tiba saja Dewi tidak dapat lagi menahan tanggul kepedihannya, air mata mengalir dengan derasnya membasahi wajah dan baju Nick, tidak keluar suara sedikitpun dari mulutnya tapi hanya tarikan nafas perih terdengar menyayat kalbu. Perlahan banjir air mata Dewi mulai menembus baju Nick mengenai dadanya, dan Nick mulai merasakan “kesakitan” perasaan akibat siraman air mata Dewi. Semakin erat Nick memeluk Dewi untuk menguatkan perempuan itu menghadapi kepedihannya. Keadaan ini berlangsung cukup lama sedangkan hujan turun semakin deras saja angin bertiup sangat kencang sekali, kilat tidak ada hentinya menyambar di langit dan petir terdengar keras seakan ingin mewakili jeritan hati Dewi.

Tangisan Dewi tidak berhenti juga, sampai inguspun meleleh keluar membasahi jas luar Nick, tapi Dewi sepertinya tidak mampu menghentikan tangisannya dan semua apa yang selama ini terasa menyakitinya terungkap keluar tanpa hambatan ditambah lagi dengan cara Nick yang terus membelai dan mendekapnya kuat-kuat di dada seperti yang selalu dilakukan oleh sang almarhum papa tercinta setiap kali Dewi bersedih. Nick hanya mampu memeluk kuat-kuat dan memberikan kekuatan kepada Dewi untuk mengatasi kepedihannya, setiap segukan tangis Dewi merupakan pukulan bagi jiwanya, dia berjanji dalam hati tidak ada seorangpun lagi yang dia ijinkan untuk membuat Dewi menangis seperti ini lagi, atau orang itu akan berhadapan langsung dengannya.

Setelah mengucapkan janji itu di dalam hati, terdengar suara petir kencang sekali seakan mematerai janji Nick tersebut dan pria itu terkejut serta tersadar apa yang telah dijanjikannya. Ada perasaan panic dan cemas tapi tetap dia tidak melepaskan Dewi dari pelukannya hanya keningnya berkerut dan mulutnya tersenyum kecut serta matanya terpejam setelah memikirkan janjinya itu kembali.

Yah ampun apa yang telah dia janjikan bahkan alampun mendukung janjinya, mampukah dia melaksanakan janji itu, matanya menatap perbatasan laut dan langit seakan meminta penjelasan kepada alam.

Isakan dan tangisan Dewi mereda seiring dengan petir yang tidak terdengar lagi gemanya dan hujan yang mulai tidak terlalu deras seperti tadi. Mendadak Dewi melepaskan diri dari pelukan Nick dan berjalan menuju hujan, dia menengadahkan kepalanya menatap langit sambil memejamkan mata dan membiarkan air hujan membasahi wajahnya yang pucat dan membengkak karena kebanyakan menangis. Nick terkejut ketika Dewi merenggut tubuhnya dari pelukan Nick, cepat dia membuka matanya memandang wanita itu. Dia berpikir kalau dibiarkan Dewi bisa sakit kena air hujan setelah tubuhnya terguncang seperti itu, dia tahu apa yang menyebabkan Dewi seperti ini tapi dia pasti akan memastikan wanita ini tidak akan kena demam akibat hujan. Segera dia mengulurkan tangannya untuk menarik Dewi kembali ke dalam gazebo, tapi seperti punya pemikiran sendiri tubuh Dewi bergerak menjauhi tangan Nick berjalan mendekati pagar pembatas tebing dengan laut. Buru-buru Nick menggapai tubuh Dewi agar tidak mendekati pagar itu, ketika dia menarik Dewi, wanita itu membuka matanya dan menatap dalam-dalam mata Nick seperti mencari sesuatu di mata biru gelap itu.

Dewi sepertinya menemukan apa yang dia cari di mata Nick, dan mengulurkan tangannya untuk memeluk tubuh Nick, untuk pertama kalinya Dewi buka suaranya.

“Nick, peluk aku lagi yang erat dan jangan lepaskan, aku kuatir tubuhku akan hancur berkeping-keping,”pinta Dewi dengan suara lirih sarat dengan kepedihan.

Tanpa banyak kata Nick langsung mengulurkan tangannya mendekap Dewi erat-erat, dia menghela nafas mencium bau hujan di rambut Dewi yang basah itu dan ada semacam wangi yang dari tadi dia cium berasal dari tubuh Dewi. Tadinya dia berpikir wangi itu pasti bau parfum yang digunakan Dewi tapi setelah Dewi “dimandikan” oleh hujan seharusnya wangi itupun hilang tapi ini malahan semakin kuat, wangi yang sangat menenangkan jiwa.

Di bawah siraman air hujan yang semakin berkurang derasnya kembali mereka berpelukan tanpa menyadari waktu dan keadaan. Mereka berdua merasakan kedamaian dan keharmonisan di dalam diri mereka dengan alam, irama hujan yang hanya berupa rintik-rintik jatuh menimpa atap gazebo seakan sebuah komposisi sebuah lagu yang diringi oleh deburan suara ombak yang bagaikan alat musik indah menambah kekhusyukan perasaan mereka berdua.

Perlahan Dewi sadar bahwa hal ini tidak bisa berlangsung selamanya karena ada banyak hal yang harus dia hadapi sehubungan realita kehidupan walaupun pahit tetap harus dihadapi dengan segala ketegaran dan kekuatan yang dia punya. Dia berterima kasih karena Nick ada di saat dia membutuhkan penopang dan sandaran menahan kehancuran dirinya, tapi dia tidak bisa mengharapkan ini akan selalu terjadi dalam hidupnya mengingat semua ucapan sinis Nick tentang dirinya tadi.

Saat dia bergerak untuk melepaskan diri dari Nick, tangan Nick semakin mengeratkan pelukannya, Dewi menggerakkan kepalanya ke belakang Nick, dia melihat bayangan beberapa orang sedang keluar dari rumah menggunakan payung seperti mencari-cari sesuatu atau seseorang. Dia sadar teman-teman Nick sedang mencari dirinya dan Nick, tiba-tiba muncul sifat khas wanita yang tersakiti dalam dirinya, dia tidak jadi melepaskan dirinya dari pelukan Nick, tapi malah menaikkan kembali tangannya untuk memeluk tubuh Nick seerat yang dia bisa. Karena tubuh Nick termasuk sangat besar dengan tinggi 187 cm dan berat 90 kg, dia termasuk kategori pria besar dibandingkan dengan Dewi yang mempunyai tinggi 167 cm dengan berat 70kg.

Ketika merasakan Dewi kembali memeluknya, Nick balas memeluk Dewi lebih erat lagi dan sepertinya ingin memasukan kepala Dewi ke dadanya sehingga nanti perempuan itu tidak akan bisa melepaskan diri darinya. Keadaan seperti sepasang kekasih inilah mereka ditemukan oleh teman-teman mereka termasuk Derek. Mereka semua tercengang memandang kedua insan yang sedang berpelukan itu, seakan tidak percaya mata mereka menatap kedua orang yang sepertinya sedang asyik menikmati kehadiran satu dengan yang lain di bawah rintikan hujan. Keduanya memejamkan mata seakan tidak menyadari alam sekitarnya terlihat di wajah kedua orang itu sebuah kedamaian yang manis, ini membuat orang yang memandangnya merasa iri dengan kedamaian yang terpancar di kedua wajah sepasang pria dan wanita ini.

Derek yang selama ini tidak pernah memikirkan Dewi sebagai kekasihnya dan tidak pernah cemburu terhadap pria lain bahkan ketika Linda lebih memperhatikan Nick dari dirinyapun dia tidak merasakan pahitnya cemburu di hatinya kepada Nick seperti sekarang ini. Ada perasaan iri yang muncul di hatinya, selama dia menjadi kekasih Dewi tidak pernah sekalipun dia melihat wajah Dewi yang terlihat begitu cantik dan lembut diliputi sinar kedamaian yang terpancar kuat di wajahnya. Dia tidak suka dengan semua ini, dia yang merupakan kekasih Dewi kenapa tidak bisa membuat Dewi terlihat cantik seperti ini tapi malahan pria lain apalagi pria itu adalah Nick yang boleh dikatakan diantara temannya yang paling tidak menyetujui hubungannya dengan Dewi. Apakah pria itu tidak menyetujui hubungan mereka dikarenakan sebenarnya Nick sendiri menyukai Dewi ? Tapi dia dan yang lain yakin seyakin-yakinnya bahwa Nick memang menentang hubungan Derek dengan Dewi bukan karena dia sendiri menyukai Dewi tapi murni karena dia tahu Derek tergila-gila pada Linda tetapi memacari perempuan lain.

Atau apakah mereka salah selama ini menduga seperti itu ? Ada keraguan yang muncul di hati Derek sejalan dengan mulainya rasa cemburu menyebar di dadanya. Dia tidak senang melihat keadaan Dewi, hal ini sangat mengusik jiwa lelakinya, apa yang tidak dia punya sehingga Nick bisa membuat wajah Dewi seperti itu, mulai dia membanding-bandingkan dirinya dengan Nick.

Tapi belum sempat dia memikirkan lebih lanjut, terdengar John mendehem dengan keras untuk membuyarkan ketentraman kedua insan ini.

Cepat Dewi membuka matanya dan pura-pura terkejut melihat mereka semua, serta berusaha merenggut tubuhnya dari dekapan Nick. Sebenarnya Nick sudah mendengar kedatangan teman-temannya dari tadi tapi dia tidak mampu melepaskan dirinya dari selimutan ketentraman yang dia rasakan saat dia memeluk Dewi. Dia tahu jika dia buka mata maka semuanya yang indah itu akan berakhir segera tanpa dia bisa mencegahnya, dan dia tidak tahu bagaimana reaksi Dewi dengan semua ini. Dia tidak perduli dengan yang lain terutama Derek, dia hanya memperdulikan perasaan Dewi saja. Dia tidak ingin menambah luka yang sudah menganga di hati perempuan ini, kini dia sadar sebenarnya perempuan ini merupakan seorang manusia yang sangat berperasaan. Selama ini dia terkecoh dengan sikap dan prilaku Dewi yang terlihat mandiri, tegas, cuek dan seperti tidak berperasaan padahal wajah perempuan ini ada pancaran keibuannya tapi semua itu tertutup dengan sinar matanya yang terlalu tajam.

Dia yang terkenal bisa “membaca” diri lawannya dengan baik ternyata tidak mampu melihat sisi sebenarnya dari seorang perempuan seperti Dewi. Saat dia memeluknya baru jiwa dia bisa merasakan kelembutan dan kerapuhan perempuan yang bernama Dewi ini. Jiwanya benar-benar sangat tersentuh sekali dan membangkitkan perasaan kasih sayang yang dia pikir tidak dia miliki selama ini. Ingin dia melindungi dan menjaga perempuan ini selamanya tapi dia tahu hal ini hampir bisa dikatakan mustahil mengingat Dewi merupakan kekasih teman baiknya, dan baginya merupakan pantangan untuk merebut kekasih temannya. Tapi hati kecilnya juga tidak bisa memungkiri ada sebuah peluang kecil bahwa hubungan Derek dan Dewi bisa berakhir segera mengingat bagaimana Derek sangat memuja Linda dan mengharapkan hubungan mereka bisa terjalin kembali.

Dia tidak berani terlalu mengkhayalkan Dewi bisa menjadi pendamping hidupnya karena dia tahu akan sangat sakit sekali bila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Bertahun dia sudah belajar dari pengalaman selama yang menyangkut yang namanya perasaan sama sekali tidak bisa diramalkan berlainan dengan bisnis. Jadi dia hanya bisa berusaha membuat Dewi bahagia dan selalu menjadi “teman” yang baik bagi perempuan itu apapun yang terjadi nantinya.

Dewi yang merasa “kepergok” oleh Derek dan teman-temannya, berusaha tidak kelihatan bersalah karena memanfaatkan Nick tapi seharusnya dia tidak perlu menguatirkan hal itu toh semuanya itu sudah tertutup dengan rona wajah merah karena perasaan malu dan salah tingkah karena kepergok teman-teman. Ada perasaan menyesal telah menyakiti Derek menggunakan Nick, tapi setiap dia mengingat perkataan Derek dan sikapnya selama di pesta ini ada perasaan sedih dan sakit hati.

Derek melihat ke arah Dewi dan Nick bergantian, dia melihat Nick memandang dia dengan tenang menantang sedangkan mata Dewi terlihat dingin dan hampa tidak sinkron dengan sikapnya yang terlihat seperti malu. Ada apa gerangan diantara mereka berdua, belum sempat dia menanyakannya sudah keduluan oleh John.

“Apa yang kalian berdua lakukan di sini dan berhujan-hujan?”

“Nick, apa yang terjadi ? Kenapa kau bisa bersama Dewi?’

“Dewi, kenapa kamu bisa bersama Nick? Kamu kan tau kamu tidak boleh berhujan-hujan seperti ini, bagaimana dengan penyakitmu nantinya?” John bertanya dengan cemas sekali.

Sekarang Nick dan Derek memandang Dewi dengan cepat dan tajam selama ini mereka tidak pernah tahu bahwa Dewi tidak sehat.

“Dewi, apa maksud John mengatakan seperti itu?” Nick bertanya dengan nada yang tajam.

“Apa kamu menangis karena kesakitan ? Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau sedang sakit sehingga aku bisa bawa kau ke dokter!” nada Nick semakin tajam diiringi dengan kecemasannya yang semakin meningkat mengingat bagaimana Dewi tadi.

“Ssssttt, aku tidak sedang sakit, John melebih-lebihkan masalah ini. John, kamu jangan seperti itu kamu membuat yang lain jadi cemas tidak karuan. Aku tidak sedang sakit SEKARANG! Jadi kamu jangan berlebihan seperti itu.”

“Tapi…” Nick berusaha membantah, kembali dengan cepat Dewi memotong.

“Nick, aku tidak apa-apa, jangan kuatir semuanya baik-baik saja, percayalah padaku, please” kata Dewi dengan pandangan mata yang lembut memohon kepada Nick.

Dan entah kenapa hati Nick luruh melihat pandangan dari Dewi itu, dia terdiam membisu tidak bisa membantah permohonan yang diucapkan dengan memelas itu. Kini dia tahu dia punya kelemahan terhadap perempuan yang dari dulu tidak dia sadari, dia tidak mampu berkeras terhadap kelembutan permohonan perempuan seperti Dewi. Dia hanya mampu memandang Dewi dengan mulut terkunci tapi pandangan mata yang bertanya.

Yang lain melihat komunikasi yang terjalin antara kedua insan ini semakin curiga dan kebingungan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua.
.....

KISAH CINTAKU

Part I

Pesta yang diselenggarakan oleh keluarga Marden sangat meriah sekali, aku datang bersama Derek, kekasihku, Tania sepupuku dan suaminya, John, yang merupakan teman baik Derek juga. Johnlah yang mengenalkan Derek kepadaku sekitar 7 bulan yang lalu dan sejak itu kami mulai dekat sehingga baru 3 bulan terakhir ini aku resmi menjadi kekasih Derek.

Kebahagiaanku sebagai seorang wanita sangatlah terasa sempurna, bayangkan di saat usiaku menjelang 37 tahun, Tuhan memberikan aku seorang kekasih yang tampan, baik dan mapan (seorang pengusaha muda yang sukses) serta berusia 3 tahun lebih muda dari aku (hmmm daun muda ni). Tak pernah kusangka dengan kepergianku ke Amerika untuk liburan setelah aku berhenti bekerja di perusahaanku yang lama membuat aku mendapatkan seorang kekasih seperti Derek. Tadinya tidak ada keinginan di hatiku untuk menerima Derek sebagai kekasih, selain usianya yang muda aku juga merasa minder berdampingan dengannya. Sampai detik ini aku selalu masih merasa takjub kenapa dia bisa memilih aku untuk menjadi kekasihnya. Aku tidak memiliki wajah dan tubuh seperti seorang supermodel, bahkan boleh dikatakan tubuhku mencerminkan obesitasku, dan wajahkupun biasa-biasa saja tidak ada istimewanya.

Selama 2 bulan dia berusaha meyakinkan aku bahwa aku orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Dan aku karena desakan dari sepupuku juga karena aku pikir gak ada salahnya punya pacar yang bisa menemani aku jalan-jalan di New York City ini setelah saatnya aku pulang yah hubungan bisa berakhir. Toh jarang orang-orang bule bisa mempertahankan sebuah hubungan yang bersikap langgeng, dan aku pikir sah-sah saja menikmati sebuah tawaran cinta yang diberikan kepadaku, kan aku tidak minta tapi diberikan jadi yah enjoy saja.

Sejalan dengan waktu, selama 3 bulan ini aku menikmati hubunganku dengan Derek, perasaan tidak yakinku lama kelamaan terkikis perlahan-lahan mulai bisa menerima bahwa Derek memang sungguh-sungguh kepadaku. Dan aku mulai membuka hatiku walau tetap aku memasang tanda hati-hati di pintu jiwaku. Semua kebahagiaan mengalir deras di setiap pembuluh nadiku seakan melancarkan semua peredaraan darahku di seluruh tubuh. Yang lebih ajaibnya adalah tanpa aku sadari tubuhku mengecil dengan sendirinya, dalam waktu 6 bulan berat badanku turun drastis hampir 26 kg, beratku menjadi 69 kg. Semua pakaian lamaku longgar dan membuat aku terpaksa membeli baju-baju baru yang mana sebagaian besar dari baju-baju dibelikan oleh Derek tanpa aku minta bahkan seringkali aku menolaknya.

Hari ini, kami semua diundang ke pesta ulang tahun Brian Marden yang merupakan teman baik John. Brian, Derek, Nick, dan Roger merupakan teman satu gank sangat dekat sekali sejak high school bahkan persahabatan ini sudah berlangsung hampir 15 tahun lamanya, walaupun 2 diantara mereka sudah menikah dan isteri bahkan pacar mereka saling akrab satu sama lain juga. Nick merupakan pemimpin tidak langsung mereka, semuanya selalu menoleh kepada Nick jika ada masalah yang membutuhkan keputusan dan pria ini selalu dapat mempengaruhi mereka semua untuk mengikuti apa yang dikatakannya.

Kelima pria ini merupakan pria yang sangat sukses dan tampan, merupakan pria-pria pilihan, mereka mempunyai perusahaan2 sendiri yang bergerak di bidang yang saling menunjang satu dengan yang lainnya. Tania sendiri tidak pernah menyangka John akan memilih dia dibandingkan ex pacar-pacarnya yang kebanyakan wanita-wanita cantik yang terkenal walau Tania sendiri juga merupakan seorang wanita cantik yang eksotis dengan warna kulit sawo matang khas milik orang Indonesia. Berbeda dengan aku yang memiliki darah campuran Tionghoa, Minang, Belanda, sehingga menghasilkan kulit dan wajah yang biasa-biasa saja menurut aku.

Setelah memakirkan mobil, Tania, John, Derek dan aku berjalan menapaki halaman rumah menuju teras depan di mana sudah menunggu pula Roger dengan kekasih barunya yang sexi, Marsha dan Nick yang terlihat datang bersama Linda, yang juga merupakan sahabat kelima cowok ini. Dengan menggandeng tangan Derek, aku berjalan dengan hati-hati menggunakan tumit tinggi di jalan bebatuan ini, aku takut jatuh sehingga terasa memalukan sekali kalau terjadi di pesta yang didatangi banyak oleh orang terkenal.

Setelah saling memberikan salam, kami bersama-sama masuk ke dalam untuk menemui yang punya hajatan. Di dalam ruang tamu, ruang tengah, ruang makan sampai ruang belakang semua dihiasi dengan indah dan meriah sekali, banyak sekali tamu yang hadir bahkan aku melihat ada Tyra Banks di pojok sana dikelilingi para pria dan wanita secantik dirinya. Aku mengagumi wanita cantik ini dan sangat menyukai charisma yang terpancar kuat dari dalam dirinya.

Dalam hati ada perasaan minder melihat orang-orang yang ada di sekeliling kami, berpakaian sangat indah dan elegan sekali. Untunglah aku menurut “paksaan” Tania untuk menerima baju yang dikirimkan Derek supaya aku bisa menggunakannya di pesta ini. Baju ini sangat sederhana sekali berwarna hitam lembut dengan bahan jatuh ke tubuhku dengan indahnya, potongan leher baju tersebut memperlihatkan kulit tulang belikat dan leherku dengan baik sekali.

Kami menemui Brian yang terlihat sangat tampan sekali didampingi isterinya yang sangat molek bernama Nancy, seorang wanita yang ramah dan sangat baik sekali, tidak sombong walaupun dia merupakan anak kesayangan dari seorang banker terkenal. Aku sangat menyukai wanita cantik ini, dan dia juga menyukaiku, kami sering saling “curhat” walau lebih banyak dia yang bicara dan aku mendengarkan. Seperti biasa begitu melihatku langsung Nancy menarik tanganku untuk berdiri di sampingnya, melihat hal ini aku langsung berbisik di telinganya untuk ingat tugasnya sebagai sang nyonya rumah. Dan Nancy balas berbisik kepadaku menceritakan kelucuan yang terjadi yang merupakan rahasia kami berdua, yang akhirnya memancing tawa geli kami berdua.

Mereka yang lain melihat kami dengan bengong, dan seperti biasanya Brian menggeleng kepalanya melihat keadaan kami berdua.

“Sudahlah kalian jangan bengong saja melihat mereka berdua, lebih baik kalian langsung masuk ke dalam dan ambil minuman. Derek, biarkan saja Dewi di sini bersama isteriku, mereka berdua kalau sudah seperti ini tidak bisa dipisahkan lagi.”

Derekpun dengan senyum pasrah melepaskan tanganku dan berjalan bersama yang lain ke ruangan tengah, sedangkan aku menemani Nancy dan Brian di ruang tamu. Tepat jam 8.00 malam, kami berjalan ke ruang tengah di mana sudah ada panggung kecil berdiri di samping tangga menuju ke lantai dua. Aku mengedarkan mataku untuk mencari Derek di tengah keramaian, dan aku melihatnya sedang berbicara serius dengan Linda berdua saja. Sedangkan yang lain tidak terlihat di sekitar mereka, aku tidak menaruh prasangka buruk apapun walau ada perasaan aneh juga melihat keadaan mereka berdua. Mereka terlihat sangat asyik bicara, aku melihat Linda bicara dengan kesal dan mata yang terlihat sedih menatap Derek, sedangkan Derek bersikap diam tapi matanya menatap Linda dengan sendu.

Entah kenapa hatiku merasa tidak enak melihat mereka berdua, tapi karena aku memang orangnya tidak gampang cemburu jadi hal ini aku buang jauh-jauh dari pikiranku. Supaya aku tidak gelisah aku memandang sekelilingku mencari Tania dan John, tiba-tiba mataku membentur mata Nick yang sedang menatap aku seperti sedang menganalisa diriku. Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan hal itu, apakah ada hubungannya dengan Derek dan Linda? Kembali aku ingin membuang perasaan tidak enak tadi dan kembali mengedarkan pandangan mataku mencari sepupuku. Kemudian aku melihat mereka sedang terlibat pembicaraan dengan Roger dan pacarnya serta ada beberapa teman mereka yang lain.

Aku ingin menghampiri Derek, tapi aku juga tidak mau mengganggu pembicaraannya dengan Linda, akhirnya aku memalingkan wajahku kembali melihat pada Nancy ternyata Nancypun sedang menatapku dengan cara aneh seperti yang dilakukan oleh Nick. Mulai perasaanku tidak dapat dibohongi lagi, firasatku mengatakan ada sesuatu yang aku tidak tahu tapi ada sangkutannya dengan diriku. Tapi seperti biasa di setiap ketakutan dan kekhawatiranku, selalu aku menampilkan wajah yang “cool” seperti tidak ada kejadian apapun. Aku memasang senyum yang manis menurutku memandangi Nancy dan Brian serta orang-orang yang mendekati kami. Tidak lama kemudian kurasakan tanganku seperti ada yang memegang saat aku menoleh ke belakang aku melihat Derek sedang tersenyum menatapku dan tangannya memegang tanganku dengan erat. Dengan tidak sadar mataku menatap dalam-dalam ke matanya yang berwarna hijau itu, memang di sana kulihat sebuah kesedihan dan ketidakberdayaan yang kental sekali.

Hatiku tercekat dan mulai merasakan gejala yang sangat aku takutkan kesakitan akibat patah hati, cepat-cepat aku berusaha membentengi diri dan memupuk semua kekuatanku untuk bertahan. Untuk menyembunyikan hal ini aku kembali memasang topengku yang “cool” dan “lugu” seperti tidak ada kejadian apapun juga. Aku berusaha tersenyum dengan sebaik mungkin untuk tidak membuat semua orang mencurigai apa yang ada di benakku.

“Hi stranger.” Kataku dengan santainya.

Terlihat Derek berusaha tersenyum dan santai menanggapi godaanku, “Sudah puas bergosipnya?’

“Hmmm… “

“Brian, kapan mulai acaranya nih? Aku sudah lapar?” kata Derek berusaha membuat suasana terlihat ringan.

“Sekarang ini, Nancy, mari kita mulai acara kita,” kata Brian sambil menggandeng isterinya yang sedang menatap Derek dengan galak.

Brian dan Nancy berjalan menuju panggung yang tersedia, dan acara ulang tahun dimulai secara resmi. Setelah itu kami semua ditarik oleh pasangan Marden menuju ruang makan untuk menikmati semua hidangan yang disediakan. Makanan enak melimpah ruah di ruangan tersebut, bahkan aku mendengar diantara bisikan tamu bahwa makanan yang disajikan dibuat oleh seorang koki terkenal yang sering muncul di acara TV.

Tapi semua makanan enak itu tidak mampu aku telan seperti tenggorokan tersumbat sesuatu sehingga sangat susah menelannya. Aku berusaha untuk tetap menjalaninya dengan tenang dan santai, menyembunyikan ketakutan hatiku berikut kepedihan yang mulai mengiris diriku pelan-pelan. Hal yang sama aku lihat terjadi juga pada Derek, diapun tidak menikmati makanan yang enak ini seperti biasa, aku tahu dia sangat suka makan walau kadang aku suka heran ke mana perginya lemak makanan tersebut dari tubuhnya yang terlihat atletis itu.

Roger, Marsha, Nancy, Brian, Tania dan John tidak hentinya berbicara dan saling memuji sedangkan Derek,Nick, Linda dan aku hanya diam menikmati percakapan yang terjadi.

“Nick, tumben loe diam aja? Kenapa sakit gigi yah? Ditemani oleh seorang wanita cantik seperti Linda seharusnya loe senang donk,” kata Roger.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka semua berusaha menjodohkan Nick dengan Linda, dan aku perhatikan Linda sebenarnya juga menyukai Nick, hanya pria tampan ini tidak pernah menunjukan reaksi lebih dari seorang teman.

Dengan senyum miring dia membalas perkataan Roger,”Memang gue senang malam ini karena mata loe gak bisa jalan-jalan lagi karena di samping loe udah berdiri wanita idaman para pria di ruangan ini.”

Marsha yang dipuji oleh Nick merasa senang sekali karena jarang sekali Nick mengeluarkan pujian kepada siapapun jika tidak benar-benar sesuai dengan kenyataan. Dan Roger membalas perkataan tersebut dengan mendelikan matanya menatap tajam kepada Nick. Nancy masih menatap Derek dengan wajah sebel dan Brian berusaha menyenggol tangannya supaya tatapannya tidak seperti itu. Kejadian kecil itu tidak luput dari mata hatiku yang tiba-tiba menajam sejalan dengan perasaanku yang semakin terasa berat.

Selesai makan malam, semua tamu dipersilahkan menikmati dessert yang telah disediakan dan berhubung Brian merupakan orang Inggris tulen yang masih memegang tradisinya walaupun sudah hampir separuh usianya dihabiskan di negeri paman Sam ini tetap saja dia ingin memisahkan para wanita dan pria dalam menghabiskan “dessert” mereka. Para pria digiring ke ruang belakang mengarah ke taman yang luas di belakang menghadap ke laut supaya mereka bisa merokok atau sekedar minum kopi atau anggur. Sedangkan para wanita diajak Nancy ke ruang tengah untuk menikmati kue-kue kecil dan pudding yang merupakan kesukaan para wanita untuk menyelesaikan makan malam yang nikmat ini.

Aku mengikuti Nancy dan yang lain berjalan ke ruang tengah, dan bergabung dengan teman-teman yang lain. Sesaat lamanya aku berusaha larut ke dalam keadaan ini tapi seperti biasanya aku cepat bosan mendengarkan celoteh yang tidak ada isinya selain gossip sesama mereka. Pelan-pelan aku beranjak pergi sambil mencari kamar kecil yang aku tahu ada di ruang belakang dekat dapur kotor. Setiap ke rumah mereka, aku sangat menyukai berdiri di gazebo belakang sambil menatap laut untuk mengobati kerinduanku akan Indonesia.

Sekarangpun aku berjalan menuju tempat favoritku itu untuk berpikir tenang menelaah situasi yang aku hadapi kini. Saat aku sampai di sana aku melihat gazebo itu sudah ditempati para pria yang aku tidak jelas lihat dari jarak aku berdiri, perlahan aku berputar arah menuju ke kanan ke arah pagar besi yang dibangun untuk mengelilingi taman belakang rumah ini yang dibangun di atas tebing karang tepi laut. Tebing ini tidak terlalu tinggi kira-kira 2 meter di atas permukaan pantai tapi karena letaknya yang didesain sedemikian rupa sehingga terkesan sangat menawan sekali disinari sinar bulan dan lampu-lampu yang menghiasi taman.

Aku suka menatap laut setiap kali hatiku bergejolak seakan laut itu bisa menenangkan hatiku dengan mendengar deburan ombak dan sinar bulan yang menerangi riak gelombang di laut itu. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdiri dan bersandar di balik pohon cemara yang tumbuh dekat pagar besi tersebut.

Tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang aku kenali sedang berjalan menuju arahku dari samping kananku, aku mendengar Brian sedang berkata sesuatu dan aku mendengar jawaban dari Roger.

“Memang gue juga heran kenapa Derek yang biasanya begitu pemilih dalam hal perempuan bisa kena dengan Dewi? Jika dibandingkan dengan Linda jauh sekali, dia orangnya cantik, kaya dan pintar lagi.”

“Benar, kalo dilihat apa sih kelebihan si Dewi itu, wajah biasa saja, tubuh gede begitu, tampang dingin, tatapan mata begitu tajam seperti ingin menelanjangi orang, diam seperti tanpa perasaan. Tidak punya banyak uang, dari Negara dunia ketiga yang jelas-jelas termasuk kategori miskin, serta kurang pintar. Apa yang loe liat dalam diri perempuan itu, mana dia lebih tua dari loe lagi,” terdengar kata-kata Nick tajam.

“Tapi dia baik kok, dan pengertian sekali,” sahut John membela aku.

“Iya, dia bisa menasehati Nancy ketika dia marah-marah yang gak jelas padaku, sehingga akhirnya Nancy minta maaf ama aku karena sudah marah-marah,” Brian juga menambah pembelaan kepadaku.

“Itulah dia masalahnya, Dewi itu terlalu baik dan pengertian sekali, tidak pernah sekalipun dia meminta sesuatu kepadaku ataupun menyebabkan aku kesal. Dia sepertinya tahu bagaimana harus bersikap melihat keadaanku, tidak pernah cemburu, tidak pernah membuat aku jengkel atau bisa marah kepadanya. Sikap dia ini membebani aku. Linda mendesak aku untuk memutuskan hubungan kami agar dia bisa kembali kepadaku dan menyambung hubungan kami yang sempat terputus itu. Dan aku tadinya juga menjalin hubungan dengan Dewi hanya sebagai pelarian saja untuk membuat Linda kesal dan cemburu, karena aku tahu orang seperti Linda tidak bisa menerima kekalahan dari orang seperti Dewi,” kata Derek dengan menghela nafas.

“Jadi maksud loe sebenarnya ingin memutuskan hubungan dengan Dewi selama ini? Maksud loe menjalin hubungan dengan dia hanya untuk membuat Linda cemburu ! Brengsek loe, menyesal gue udah kenalin loe dengan dia, kalo sampai Tania tau masalah ini bisa runyam urusannya,” kata John dengan nada tinggi.

“Loe emang gila yah, gue juga bisa dalam kesulitan kalo sampai Nancy mendengar masalah ini. Loe mana boleh mempermainkan perasaan orang seperti itu. Loe tahu Nancy bilang Dewi itu orangnya susah membuka hatinya kepada pria manapun, walau dia bisa dengan sangat mudah jatuh cinta kepad pria tapi untuk membuat dia menerima loe sebagai tempat curahan perasaannya tidak gampang. Dia sudah mulai membuka hatinya buat loe dan sekarang loe bilang loe mau putusin dia?”

“Sudahlah kalian jangan memojokan Derek seperti itu, gak kalian liat wajahnya yang sudah kusut itu memikirkan masalah ini. Saran gue sih boys, berani berbuat berani tanggung jawab, lebih baik loe putusin Dewi sekarang jika memang loe gak punya perasaan ama dia daripada loe. Karena cepat atau lambat dengan perasaan lu seperti ini pasti hubungan kalian tetap saja akan berakhir mumpung belum terlalu lama.”

“Gue setuju apa yang dikatakan Nick, lebih cepat lebih baik loe putusin Dewi, palingan loe dak enak hatinya hanya sebulan daripada loe gak enak terus selamanya. Lagian Linda, gue liat udah nafsu banget ama loe, yah mendingan ama dia lagi, kalo bisnis loe kacau loe bisa di back up dia. Kan kebetulan juga bisnis loe lagi dalam kondisi kurang baik jadi loe ama Linda aja, bokap dia bisa bantu usaha loe untuk menjadi lebih besar. Gak kayak si sombong Nick ini, udah banyak gadis kaya mau ama dia eh malah ditolak mentah-mentah. Sepertinya yakin dengan kekuatan sendiri untuk membangun usahanya dan tidak butuh bantuan orang lain.”

“Emangnya semua orang kayak loe, Rog, semua usaha loe dibantuin ama bokap pacar-pacar lu?”

“Hehehe… gue memang hoki berat, bokap mantan pacar gue masih tetap saja memberikan gue bisnis walau gue udah tidak ama anak mereka lagi karena selama in yang memutuskan hubungan kan anak mereka bukan gue. Jadi yah untuk menutupi “keputusan bodoh” anaknya yah mereka tetap bantu gue.”

“Dasar tidak tahu malu.”

“Derek, gue benar-benar tidak menyangka loe orang yang seperti ini, gue benar-benar menyesal mendorong Dewi menerima loe di hidupnya. Lebih baik mulai sekarang loe jauhin rumah gue, gue dak mau ini semua membuat gue ribut dengan Tania dan menghancurkan persahabatan kita.”

“John, gue minta maaf banget bukan maksud gue begitu, gue pasti akan cari waktu yang baik untuk bicara dengan Dewi agar masalah ini bisa terselesaikan dengan baik. Gue harap hubungan persahabatan kita tidak berakhir karena masalah ini, sebenarnya kalo boleh memilih gue ingin memiliki kedua-duanya tapi gue tahu gue tidak boleh serakah makanya gue harus memilih salah satu diantara mereka. Gue memilih Linda bukan hanya karena dia kaya, cantik dan pintar, tapi karena memang gue dari dulu cinta sama dia, tapi sayang dia tidak pernah menanggapi perasaan gue baru terakhir ini saja dia akhirnya menyadari cinta gue padanya. Sedangkan pada Dewi awalnya gue merasa kasihan cewek yang datang dari jauh tapi tidak bisa menikmati liburannya di sini, lama-lama gue berhubungan dengan dia, gue merasa tambah kasihan dan entah kenapa gue selalu ingin memberikan dia sesuatu dan melindunginya. Gue pikir daripada gue bersusah payah mencintai orang yang tidak mencintai gue kenapa gue tidak belajar menerima Dewi di sisi gue, karena gue sudah capek untuk menjalin hubungan dengan perempuan yang menginginkan sesuatu dari gue tapi bukan diri gue yang sebenarnya. Tapi ketika Linda mendekati dan mulai menerima cinta gue, gue merasa menyesal sekali menerima Dewi seandainya guebersabar sedikit lagi pasti tidak akan terjadi seperti ini atau seandainya dari awal gue tegas mengatakan kepada Dewi bahwa hubungan kami benar-benar hanya persahabatan…” terdengar desahan panjang Dererk.

Mereka sudah melewati tempat aku berdiri kaku dan sambil mengepalkan tanganku kuat-kuat untuk menahan tubuhku jangan sampai ambruk di tempat.

Aku sudah tidak mampu lagi mendengarkan apapun lagi dari perkataan mereka selain mereka sudah tambah jauh juga suara mereka mulai turun nadanya. Aku sedang berusaha mengendalikan getaran tubuhku yang terguncang dengan keras seiring dengan detak jantungku yang berpacu cepat dan tarikan nafasku yang terasa sesak sekali. Sekuat daya yang ada aku berusaha meraih kekuatan dalam diriku agar bisa menghadapi kesakitan ini. Otakku terasa kebas dan hatiku retak seakan sebentar lagi akan hancur berkeping-keping jika aku tidak menahan getaran tubuhku.

Aku mendengar Brian memanggil para tamu ke dalam rumah untuk melanjutkan acara dengan berdansa bersama pasangan masing-masing, musik dansa sudah mulai terdengar mengalun dengan indahnya, tapi aku sudah tidak mampu merasakan apapun juga selain berusaha menenangkan diriku agar aku bisa masuk ke dalam tanpa seorangpun tahu apa yang berkecamuk di dalam diriku.

Dengan tegar dan berusaha sekuatnya aku menggerakan kakiku untuk melangkah satu demi satu menuju ke rumah, setiap langkah yang aku ambil begitu beratnya sehingga aku merasa dadaku sesak dan nafasku menjadi tersendat-sendat. Aku hanya sanggup melangkahkan kakiku sampai di gazebo dan aku tidak menyadari ternyata saat aku berjuang mengendalikan diriku cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba gelap dan mendadak turun hujan dengan derasnya. Udara yang tadinya terasa biasa saja mendadak terasa bertambah dingin dengan cepatnya kembali tubuhku bergetar dengan hebatnya. Dengan diiringi kilat dan petir yang bertalu-talu di telingaku, kembali semua perkataan Derek mengiang-ngiang di telingaku.

Setiap suara dahsyat yang dimuntahkan oleh sang petir, setiap itu pula aku merasa tubuhku siap untuk hancur berderai, dengan menggeretakkan gigi dan memejamkan mata kuat-kuat, aku memeluk tubuhku sendiri erat-erat takut aku akan hancur berkeping-keping sehingga bisa menjadi gila karena menahan kesakitan hatiku….